Batu Bara – Indonesia memiliki sumber daya alam berupa biji bauksit yang merupakan bahan baku utama dalam pembuatan aluminium. Potensi tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri aluminium dari sektor hulu hingga hilir.
Pengembangan industri aluminium juga sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan nilai tambah sumber daya alam melalui hilirisasi.
Salah satu perusahaan penting dalam industri aluminium nasional adalah PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Perusahaan ini mengoperasikan fasilitas peleburan aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara.
Didirikan pada tanggal 6 Januari 1976, sejak awal Inalum ingin menjadi pemain utama dalam pengolahan dan peleburan aluminium. Sebelum proyek ini berjalan, Indonesia belum memiliki kapasitas untuk memproses alumina menjadi aluminium batangan secara mandiri. Pembangunan pabrik peleburan (smelter) di Kuala Tanjung ditujukan untuk mengisi kekosongan sektor hilir.
Pada masa lalu, sebagian besar sumber daya mineral Indonesia diekspor dalam bentuk bahan mentah atau dengan tingkat pengolahan yang terbatas. Kebijakan hilirisasi mendorong agar mineral tersebut diolah lebih lanjut didalam negeri sehingga menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
Sejalan dengan hal tersebut, PT Inalum mulai mengoperasikan smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan kapasitas produksi sekitar 275 ribu ton aluminium per tahun. Produk yang dihasilkan antara lain aluminium ingot, billet, dan alloy.
Setelah masa kontrak kerja sama dengan konsorsium Jepang berakhir pada tahun 2013, PT Inalum secara resmi diambil alih 100% oleh Pemerintah Indonesia dan bertransformasi menjadi BUMN.
Cita-cita awal tersebut kini diperluas untuk mewujudkan kemandirian industri pertambangan dan hilirisasi aluminium nasional sepenuhnya demi kebutuhan dalam negeri dibawah naungan holding MIND ID.
Untuk mendukung hilirisasi aluminium nasioanal, selain di Kuala Tanjung, Pemerintah Indonesia membangun fasilitas Smelter Aluminium dan SGAR (Smelter Grade Alumina Refinery) di Mempawah, Kalimantan Barat. Pengembangan tersebut diarahkan untuk membangun rantai industri yang lebih terintegrasi antara bauksit, alumina, dan aluminium.
Integrasi tersebut penting karena dapat memperkuat pasokan bahan baku dalam negeri dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia.
Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan industri aluminium karena memiliki sumber daya bauksit dan pasar domestik yang besar. Pertumbuhan sektor konstruksi, otomotif, transportasi, kemasan, dan manufaktur dapat meningkatkan permintaan terhadap aluminium.
Selain itu, pengembangan industri hilir dapat menciptakan peluang baru. Aluminium yang diproduksi didalam negeri dapat diolah menjadi berbagai produk dengan nilai tambah lebih tinggi sebelum dipasarkan didalam maupun luar negeri.
Pengembangan teknologi daur ulang aluminium juga dapat menjadi peluang penting. Aluminium dapat didaur ulang dan digunakan kembali sehingga membantu menghemat bahan baku dan energi dibandingkan produksi aluminium primer.







